Sejarah

Lokasi dan lahan bersejarah Podere Marrontorto terletak di sebelah barat lembah Valdarno, di perbukitan Chianti, di ketinggian antara 440 hingga 480 meter. Lahan ini dibatasi daerah hutan yang lebat yang pusatnya disebut Orma del Diavolo (Tapak Kaki Setan) dan merupakan tempat di mana il Borro dei Diavoli (sungai Setan) dan il Borro della Pozza dei Diavoli (sungai kubangan Setan) mengalir.

Nama-nama tempat yang berbau setan hampir bisa dipastikan berasal dari “demonisasi” tempat pemujaan berhala kuno; terus dipertahankan dengan digunakannya hutan oleh masyarakat dalam waktu lama di daerah tersebut, seperti terlihat di bagian via del comune (jejak balai kota) yang masih ada hingga kini, dan di sisa-sisa tata ruang awal (simetri, sumur-sumur, “gua-gua”) Tribolino.

Antara akhir abad kedelapan belas dan awal abad kesembilan belas, seorang pembuat arang dari Gaiole in Chianti yang bernama “Tribolino” Corsi, paham bahwa dengan menjual batu bara di Valdarno akan lebih menguntungkan dibandingkan terus menjualnya di desa-desa Chianti dan ia menggunakan tabungan keluarganya untuk membeli gerobak yang ia gunakan untuk mengangkut batu bara ke pasar Montevarchi.

Usaha tersebut berjalan sangat baik sehingga ia mulai menjual batu bara yang diproduksi oleh orang lain.

Sehingga, pertama-tama, ia memindahkan batas-batas fisik antara Chianti dan Valdarno, dengan menggunakan bangunan yang dimiliki oleh Pangeran Stanislaw Poniatowski di Badia a Coltibuono, kemudian ia membeli sisa bangunan kuno dekat Borro dei Diavoli dan berada dekat dengan satu dari dua jalan yang menghubungkan Chianti ke lembah Valdarno.

Lalu ia mengubahnya: sisa bangunan dijadikan kandang, gudang dan kantor pusat perusahaan.

 Kemudian ia membeli lahan di sekitarnya untuk menggarap dan membudidayakan pohon anggur dan zaitun. Ini adalah asal mula lahirnya Podere Marrontorto, nama yang dipilih oleh pendirinya yang mengacu pada sumur yang ada di sebelah lilitan pohon berangan besar (marrone), ia menganggap nama lama “Borro de’ Diavoli” tidak cocok untuk diberikan bagi kantor pusat perusahaan: namun setelahnya terjadi perubahan sejak orang-orang menyebut tempat tersebut dengan nama pemilik “Tribolino” [di Chianti ditambahkan setelahnya] dan Podere Marrontorto selanjutnya menjadi nama dagang perusahaan saja.

Awal kegiatan pertanian perusahaan kami dengan demikian sudah dilakukan sebelum sisa bangunan tempat Tribolino dibangun kembali, namun antara tahun 1885 dan 1914 kualitas minyak yang dihasilkan dari Podere Marrontorto sudah dikenal bahkan di luar wilayah setempat, sehingga ketika dilakukan pembangunan jalan baru, Follonica-Montevarchi, sebuah jalur dipilih untuk melewat ke depan gedung utama perkebunan tersebut dan – adalah hal yang sangat tidak biasa – perkebunan diperbolehkan untuk mempertahankan akses langsung ke jalan lama bukit, dengan menyediakan tangga kecil di dalam dinding penyangga Poggio di Sopra yang ada di atasnya.

Karena Tribolino ada di rute komunikasi utama antara wilayah perkebunan Chianti dan Montevarchi (yang merupakan tempat dari salah satu pasar pertanian terbesar di Tuscany), ini berarti bahwa, juga berkat kontribusi keluarga Martini yang pindah ke sini dari Firenze, kamar-kamar yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan batu bara kemudian berkembang menjadi salah satu osteria (pub) yang paling ramai dikunjungi di wilayah tersebut.

Salah satu pengunjung tetapnya adalah pemimpin berpengaruh Castello di Brolio, Francesco Raspini, yang konon tidak pernah melewatkan hari Kamis (hari pasar) dan Attilio Sassi, pemimpin sindikalis anarkis yang sebelumnya beroperasi di Brazil dan kemudian di Italia, pendiri Unione Sindacale Italiana (Serikat Buruh Italia) bersama-sama dengan Giuseppe Di Vittorio, yang di tempat tersebut menggelar rapat-rapat penting selama perjuangan serikat buruh tahun 1919, yang dipimpin oleh para pekerja tambang dari Valdarno, untuk menjadi yang pertama di dunia, bersama dengan para penggali dari Carrara, dalam memenangkan tuntutan jam kerja enam setengah jam dalam satu harinya.

Tempat ini juga sering dikunjungi orang asing, seringkali datang dari dunia anarkisme dan anti fasisme dan, di tahun 30-an, para pemuda Yahudi yang datang dari Jerman, Polandia dan Lithuania yang terlibat dalam achsciaroth (kemah pelatihan) pertanian yang dibuat oleh gerakan Zionis di Chianti untuk mempersiapkan emigrasi mereka ke Palestina dan yang diyakini oleh orang-orang di sini sebagai orang buangan bundist.

Sangat mungkin gagasan internasional yang digaungkan oleh osteria (di antara yang paling menonjol adalah pertemanan erat dengan keluarga pedagang Italia-Jerman, Fiechter) memiliki peran penting dalam menciptakan jaringan dagang kecil tingkat tinggi (high-end) di Eropa Utara dan terpisah dari jaringan sebelumnya yang terkait dengan emigrasi orang Tuscany ke Brazil (Minas Gerais), Argentina dan Uruguay.

Setelah Perang Dunia Kedua, kehancuran yang disebabkan oleh pergerakan pasukan garis depan, bersama dengan berakhirnya sistem pertanian bagi hasil (sharecropping) dan berkurangnya ukuran perusahaan akibat pembagian warisan, menyebabkan penurunan drastis kegiatan usaha perusahaan: praktis hanya kenalan dekat dan teman-teman di Tuscany saja yang masih menjadi pelanggan dan hanya sedikit sekali pelanggan “historis” yang sangat bergensi dari wilayah lain di Italia dan Perancis.

Selama beberapa tahun belakangan ada pertumbuhan aktivitas perusahaan secara konstan dengan pulihnya kebun zaitun tua diikuti dengan pembelian terarah atas item-item dengan nilai yang tak diragukan, seperti kebun anggur indah yang selama berabad-abad dimiliki keluarga Mannozzi di bukit yang menghadap ke Badia a Coltibuono, dan perkebunan Piaggia di Nano, yang terletak di lahan terdepan Borro dei Diavoli, yang mungkin merupakan lahan pertanian terakhir di seluruh Chianti yang digarap sepenuhnya dengan menggunakan tangan (dimulai pada tahun 1920 dan berakhir pada tahun 50-an), dan yang juga memiliki hutan pohon cemara yang sudah ada di awal abad ke-20 – dikenal dengan nama Bosco di Melo (hutan Melo) – dengan nilai lingkungan yang tinggi yang restorasinya sedikit lagi akan kami tuntaskan.

Pangeran Stanisław Poniatowski (1754-1833), bangsawan asal Polandia, komandan infantri Crown Guards, kesatria Order of the White Eagle, Grand Treasurer Lithuania, ia menetap di Firenze pada tahun 1823 dan ia dengan pewaris tahtanya adalah pemilik bekas Abbey of San Lorenzo di Coltibuono
Tribolo dan Tribolino adalah nama panggilan lama di Tuscany untuk anak-anak dan orang dewasa yang bersemangat dan sangat ceria. Tribolo paling terkenal (Benvenuto Cellini menyebutnya Tribolino dalam autobiografinya) adalah Niccolò di Raffaello di Niccolò dei Pericoli (1497-1550), yang dikenal sebagai Tribolo, arsitek, arsitek pertamanan dan pematung Florentine, arsitek gedung pengadilan Cosimo I de ‘Medici, perancang Giardino di Boboli dan Giardino dei Semplici.
Attilio Sassi, pemimpin sindikalis yang sebelumnya beroperasi di Brazil dan kemudian di Italia, sekretaris serikat tukang bangunan di Imola (sindacato muratori di Imola), serikat petani di Piacenza (sindacato lavoratori della terra), serikat tukang pedati (Lega barrocciai) di Crevalcore, serikat pekerja tambang di Valdarno di Sopra (Lega dei minatori aderente all’Unione Sindacale Italiana (USI)) dan terakhir Sekretaris Jenderal Federasi Pekerja Tambang dan Penggali Italia (Federazione Italiana Minatori e Cavatori (FIMC)).
Francesco Raspini, petani Castello di Brolio in Gaiole in Chianti, lahan perkebunan bersejarah milik keluarga bangsawan Florentine “Ricasoli”.
Potret para pasangan Fiechter, disimpan di perkebunan